Jumat, 10 Desember 2010

semangat menulis


Sebenarnya ini blog udah lama dibuat tetapi entah mengapa baru sekarang semangatnya muncul untuk mulai menuangkan sepatah dua patah kata yang tidak berarti ini. Berangkat dari keinginan luhur dan niat yang tulus untuk menulis membuat saya bingung apa yang harus saya tulis dan bagikan kepada para pembaca. Bagaimana kalau saya mulai dengan kisah saya sendiri pada hari ini yang tak begitu penting, semoga kamu kamu sudi membacanya hihiiii....

Tepat jam 7 lebih beberapa belas menit ku tancap gas dengan semangat yang naik turun untuk niat pergi praktek kerja lapangan disebuah stasiun TV yang jangan ditanya lagi jam terbangnya. Sebut saja TVRI heheheheee. Pagi itu lalu lintas cukup bersahabat, mengapa bersahabat ?? mungkin kamu kamu sekalian mengerti bagaimana kondisi lalu lintas ibu kota pada waktu pagi hari huufffff menyedihkan bukan. Akan tetapi entah mengapa saya merasa senang heheheeee ... Lalu lintas mulai tersendat waktu ban depan motor saya melalui daerah cawang, kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat mulai antri menyusuri jalan-jalan ibu kota wow sepertinya cukup melelahkan menyusurinya tapi harus bagaimana lagi ?? siapa suruh datang ke Jakarta kalimat itu cocok jadi jawaban dari kamu kamu sekalian yang merasa muak atau jengkel atas keadaan kota Jakarta yang hari demi hari makin ruwet. Sampai-sampai beberapa petugas polisi lalu lintas pun ditugaskan untuk menjaga jalur busway yang bagi para pengendara khususnya pengendara motor roda dua sebagai ruas jalur yang paling digemari karena percaya tidak percaya kalau lewat jalur busway bisa menghemat sedikit waktu. Akan tetapi sirna sudah semuanya karena eh karena mulai beberapa hari yang lalu pengendara motor dilarang melintas dijalur kegemaran itu, jalur yang menjadi kegemaran bagi ratusan pengendara motor kini tak seperti dahulu lagi. Sepeda motor kini diharamkan untuk melintas disana dan harus berbesar hati untuk rela mengantri melintas di ruas jalur biasa serta tidak bisa menghemat waktu lagi.

Setelah melalui berbagai rintangan dan cobaan akhirnya sampai juga dihalaman parkir TVRI yang masih tidak terlalu penuh, dan saya pun dapat memarkirkan motor ditempat kegemaran yaitu parkir yang ditempat yang beratap. Kemudian tidak tahu harus merasa senang, kecewa atau jengkel karena betapa amat disayangkan kaka-kaka senior wartawan sudah pergi liputan sayapun tertinggal. Bingung harus berbuat apa setelah habis kopi kalengan dan beberapa batang rokok saya pun memutuskan untuk pergi ke kampus. Kesimpulannya hari ini saya tidak ikut liputan lagi untuk yang kesekian kalinya heheheheeee ...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar